Karakteristik Enam Puluh Sahabat Rasulullah


karakteristik 60 sahabat rasulullah

Cahaya Yang Mereka Pedomani – 2

Kemudian, barangsiapa yang menyaksikan peristiwa Rasul­ullah di Thaif, maka ia akan melihat bukti-bukti kebenaran dan pengurbanannya, suatu hal. yang sudah wajar menjadi miliknya dan tak dapat digugat lagi! la menghadapkan tujuannya kepada kabilah Tsaqif menyeru mereka mengabdikan diri pada Allah Yang Maha Esa lagi perkasa ….

Wahai, belum cukupkah kiranya apa yang diderita dari kaum dan keluarganya sendiri . . .? Tidakkah beliau takut akan men­dapat siksaan yang jauh berlipat ganda dari kaum yang hendak didatanginya itu, yang antaranya dengan mereka tak ada per­~talian darah dan hubungan keluarga … ?

Tidak, karena rupanya risiko tidak masuk sekali-kali dalam perhitungannya! Bukankah Tuhannya Yang Maha Tinggi itu telah menitahkan kepadanya: “Hendaklah kamu sampaikan!” Beliau teringat akan suatu hari di kala ejekan dan celaan kaum nya kepadanya semakin menin’gkat. Maka kembalilah beliau ke rumah dan menyelimuti diri di tempat tidurnya dalam keada­an duka dan kecewa. Tiba-tiba suara langit mengetuk pintu hatinya dan wahyu pun segera datang, menyampaikan perintah yang telah disampaikan padanya di gua Hira dulu:

Hai orang yang berselirnut! Bangkitlah dan sampaikanlah peringatan … !

Sadarlah beliau bahwa dirinya seorang muballigh dan juru nasihat! Dan kalau begitu beliau adalah seorang R.asul yang tak menghiraukan bahaya dan tak boleh berpangku tangan! Maka sekarang beliau harus pergi ke Thaif untuk menyampaikan kalimat Allah kepada penduduknya.

Ketika itu datanglah penduduk Thaif mengepungnya. Rupa­nya mereka lebih jahat lagi dari kawan-kawan mereka di Mekah! Mereka hasut anak-anak dan orang-orang bodoh dan tanggalkan sopan santun Arab yang dianggap keramat yaitu memuliakan tamu dan melindungi orang-orang yang teraniaya. Mereka lepaskan orang-orang bodoh dan anak-anak itu mengejar Rasulullah dan melemparinya dengan batu.

lnilah dia orang yang mendapat tawaran dari orang-orang Quraisy dulu untuk menerima tumpukan harta hingga beliau akan menjadi seorang yang terkaya! Atau berupa kedudukan sehingga beliau akan menjadi pernimpin atau raja mereka! Tetapi tawaran itu ditolaknya serta katanya: “Aku ini hanyalah hamba Allah dan utusan-Nya!”

Dan sekarang beliau sedang berada di Thaif dan pergi ke sebuah kebun lalu melindungkan diri di balik pagar dari kejaran orang-orang bodoh tersebut . . . , tangan kanannya terhampar dan tertadah ke langit memohon kepada Allah, sementara tangan kirinya digunakannya sebagai tameng untuk melindungi wajah­nya dari batu-battr lemparan. Beliau bermunajat kepada Pencipta dan Pelindungnya, katanya: “Asal Engkau tidak murka ke­padaku, maka aktr tidak peduli . . . , hanya keselamatan dari­pada-Mu akan lebih melapangkan dada ini … !”

Memang, beliau adalah Rasul yang tahu bagaimana caranya memohon kepada Allah tanpa mengabaikan tata tertib keso­panan! Sementara beliau menyatakan tidak peduli terhadap penderitaan di jalan Allah, dinyatakannya pula bahwa beliau amat memerlukan keselamatan yang akan dikaruniakan oleh Allah.

Dalam keadaannya seperti itu beliau tidak bangga dengan ketabahan dan keberaniannya, dan tidak merasa sombong, karena kesombongan dalam keadaan dan suasana seperti itu mungkin akan mengandung ma’na berjasa kepada Allah.

Hal itu tidak luput dari fikiran Nabi Muhammad. Oleh sebab itu cara sebaik­baiknya untuk menyatakan ketabahan dan keberanian dalam situasi seperti demikian, ialah suara du’a dan kerendahan diri … !

Demikianlah beliau melanjutkan du’a dan permohonan ampunnya kepada Allah, katanya:

“Ya Allah, kuadukan kepadaMu kelemahan tenaga, kekurangan budi daya serta kerendahanku terhadap manusia . . .! Ya Allah, Yang Teramat Pengasih dt antara yang pengasih! Engkaulah pelindung orang-orang yang lemah, dan Engkaulah Rabbi! Kepada siapakah daku Engkau serahkan . . . ? Apahah kepada orang yang jauh yang akan menerimaku dengan wajah masam, ataukah kepada musuh yang akan berlaku Mum dan bersifat hejam … ? Tetapi asal saja Engkau tidak murka kepadaku, maha aku tidak peduli, hanya keselamatan dari-Mu akan lebih melapangkan hamba-Mu ini … !

Aku berlindung dengan nur wajah-Mu yang menerangi kegelapan dan menjamin kebaikan dunia ahhirat, dari amarah-Mu yang akan menimpa diriku dan murka-Mu yang akan membinasakan dahu. Kumohon ridla-Mu sampai kuperolehnya, dan tiada daya maupun tenaga kecuali dengan-Mu juga … !”

Kecintaan manakah yang mendorong Rasul memikul tugas da’wahnya . . .? Seorang diri sebatang kara . . . , akan berhadapan dengan tipu daya manusia … ! Tak satu pun dari sarana kehidup an duniawi yang dapat menyokong perjuangannya, tetapi ia tetap bertahan dengan kegigihan yang tak pernah kendor dan kecintaan yang tak pernah pudar.

Ketika kembali ke Mekah dari Thaif, beliau dilihat orang bukan terpukul atau putus asa, bahkan bertambah semangat dan meningkat gembira. Didatanginya suku-suku dan kabilah kabilah, ditemuinya mereka di dusun-dusun dan kampung­kampung mereka. Suatu hari di suku Kindah, suatu hari pula di Bani Hanifah. Hari yang lain di Bani ‘Amir. Demikian seterus­nya suku demi suku, kabilah demi kabilah.

Kepada mereka semua dikatakannya: “Saya ini adalah atusan Allah kepadamu. Ia menyuruhmu beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu, dan agar kamu meninggalkan penyembahan lain-Nya berupa berhala-berhala … !

Di perkampungan kabilah-kabilah yang dekat letaknya, Abu Lahab selalu mengikutinya seraya meneriakkan kepada orang-orang itu: “Jangan percaya kepadanya, ia hanya hendak membawa kalian kepada kesesatan … !”

Demikianlah dalam kedudukan sulit ini, ketika beliau dilihat orang hendak mencari orang-orang yang mau beriman dan menjadi pembela, kiranya yang dijumpainya ialah tentangan dan permusuhan!

Dan mereka lihat beliau menolak tawar-menawar, begitu pun menjual keimanan dengan harta dunia, apa lagi kalau hanya dengan sekedar janji akan memberi imbalan kedudukan dan kekuasaan.

Di musim pancaroba itu beliau mendatangi Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah dan duduk membicarakan dengan mereka perihal Allah swt. sambil membacakan ayat-ayat-Nya. Mereka bertanya kepadanya sebagai berikut: “Bagaimana pendapat anda, seandai­nya kami bai’at kepada anda mengenai urusan ini, kemudian anda dimenangkan Allah atas musuh anda, apakah kami berhak menguasai urusan ini nanti … ?” Rasulullah saw. pun menjawab: “Semua urusan itu kepunyaan Allah, akan diserahkan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya … !”

Mendengar itu mereka pun bubar, seraya kata mereka: “Tak perlu bagi kami urusan ini … !” Maka pergilah Rasulullah saw. meninggalkan mereka untuk mencari orang-orang beriman yang tak hendak memperjual-belikan keimanan mereka dengan harga murah …

Orang-orang telah melihat usaha Nabi Muhammad, dan beberapa di antara mereka telah ada juga yang beriman. Walau­pun jumlah mereka tidak banyak, tetapi pada mereka ditemu kannya keakraban dan persahabatan. Tetapi Quraisy telah memutuskan agar masing-masing kabilah bertindak menertibkan orang-orang yang beriman di antara warganya.

Maka secara tiba-tiba, bagai angin puyuh yang bertiup kencang, adzab dan siksa menimpa Kaum Muslimin, hingga tiada satu macam kejahatan pun yang tidak dilakukan oleh orang-orang musyrik. Dan secara tiba-tiba pula terjadilah peris­tiwa yang tidak disangka-sangka, yaitu Muhammad saw. menyu­ruh semua Kaum Muslimin hijrah ke Habsyi, hingga tinggallah beliau menghadapi penantangnya seorang diri … !

Nah, kenapa beliau tidak ikut berhijrah dan menyebarkan kalimat Allah di tempat yang lain? Bukankah Allah Tuhan semesta alam, dan bukan hanya untuk bangsa Quraisy semata . . .? Atau kenapa rnereka tidak ditahan di sisinya, bukankah hal itu akan membawa manfa’at yang nyata . . .? Walaupun jumlah mereka tidak seberapa, tetapi beradanya mereka di Mekah akan menarik penduduk lainnya masuk Islam.

Apalagi di kalangan mereka ada beberapa orang tokoh yang termasuk bangsawan tinggi Quraisy, orang-orang kuat dan gagah berani. Misalnya dari kalangan Bani Umayah ada Utsman bin ‘Affan, Amar Bin Sa’id bin Ash dan Khalid bin Sa’id bin ‘Ash. Dari Bani Asad terdapat Zubair bin Awwam, Aswad bin Naufal, Yazid bin Zam’ah dan Amar bin Umayah. Dari Bani Zuhrah tercatat pula nama-nama Abdurrahman bin ‘Auf, ‘Amir bin Abi Waqqash, Malik bin Ahyab dan Muthallib bin Azhar.

Pendeknya ada keluarga tokoh-tokoh yang telah tak shabar lagi menyaksikan penganiayaan dan penyiksaan terhadap mereka. Maka kenapa Rasulullah saw. tidak menahan mereka di samping nya agar dapat membela dirinya dan menjadi sumber kekuatan yang berada dalam tangannya … ?

Di sini terlukislah dengan nyata kebesaran Muhammad Rasulullah . . .! Beliau tidak menginginkan timbulnya fitnah atau perang saudara , walau tidak mustahil beliau akan beroleh kemenangan, ; bahkan pada akhirnya pasti akan- menang . . .!

Dan di sini ! ternyatalah pula rasa belas kasih dan perikemanusiaannya … ! Beliau tidak tega melihat orang-orang akan disiksa disebabkan dirinya, walau beliau tahu dan yakin bahwa pengurbanan itu merupakan akibat yang lumrah dari setiap perjuangan mulia dan da’wah besar! Baginya biarlah pengurbanan itu diberikan, jika tak ada jalan lain sebagai gantinya! Adapun sekarang, karena masih ada jalan untuk menghindarkan bencana, maka biarlah Kaum Muslimin menempuh jalan tersebut … !

Kemudian, kenapa beliau tidak ikut saja hijrah bersama mereka . . .? Jawabnya ialah karena beliau belum lagi dititah ,untuk pergi … ! Karena tempatnya ialah di sini, yaitu di kandang berhala-berhala . .. ! Beliau selalu mendengungkan Asma Allah Yang Maha Esa …. dan akan~senantiasa menerima penyiksaan tanpa gelisah clan keluh kesah . . . , asal saja yang dianiaya itu dirinya pribadi, dan bukan golongan lemah yang beriman clan menjadi pengikutnya …. clan bukan pula golongan bangsawan yang juga telah beriman clan memasuki barisannya …

Nah, siapakali yang dapat mengemukakan kepada kita corak katabahan, dan bentuk pengurbanan yang dapat menyamai itu . . .? Itulah suatu keagungan yang tak dapat dilakukan kecuali oleh ulu ‘azmi, orang-orang yang berkemauan baja di antara para Rasul dan tokoli-tokoh pilihan … !

Sungguh, manusia dan Rasul bertemu dan berpadu satu pada diri Nabi Muhammad secara amat mengagumkan! Dan orang­ orang yang meragukan kerasulannya , tidak akan bimbang tentang kebesarannya , begitupun tentang keluhuran jiwa dan kesucian kemanusiaannya. Dan Allah yang lebih mengetahui di mana la akan menempatkan kerasulannya itu, telah memilih seorang manusia yang dididik-Nya setinggi apa yang diinginkan manusia untuk mencapainya, berupa keagungan, keluhuran dan kepercayaan.

Orang-orang mendengar dan menyaksikan bagaimana beliau mencela setiap sikap berlebih-lebihan dalam memuliakan dirinya, bahkan juga terhadap sikap yang agak berlebih-lebihan itu. Dibentaknya mereka hanya karena mereka bangkit berdiri untuk menyambut kedatangannya, katanya:

Janganlah kalian berdiri sebagaimana berdirinya orang asing, saling mendewakan sesarnanya.

Pada hari wafat puteranya (Ibrahim), terjadi gerhana sebagian dari matahari, hingga orang-orang memperkatakan bahwa gerhana matahari itu terjadi disebabkan berkabung atas kematian Ibrahim. Maka Rasul besar yang terpercaya itu segera mematahkan dan menyalahkan anggapan tersebut sebelum meningkat men­jadi takhyul. Beliau berdiri berpidato di hadapan manusia antara lain katanya :

“Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua buah tanda dari tanda-tanda Allah. Kedua gerhana bukan­lah karena meninggalnya salah seorang di antara kamu, dan buhan pula harena lahirnya … !

la menjadi kepercayaan bagi otak dan fikiran manusia , dan berdirinya dalam memenuhi tanggung jawab ini, baginya lebih baik dan lebih utama dari kemuliaan dan penghormatan sepenuh bumi!

Muhammad saw. meyakini sepenuhnya bahwa kemunculan­nya dalam arena kehidupan manusia tiada lain hanyalah untuk merubahnya, dan bahwa beliau bukan han,ya menjadi utusan bagi Quraisy, bahkan bukan hanva bagi bangsa Arab semata, tetapi adalah bagi ummat manusia~umumnya …

Dan Allah saw. telah membukakan penglihatann.ya menembus jarak jauh yang akan dicapai oleh da’wahnya, yang akan dinauqgi oleh bendera dan panji-panjinya. Maka telah disaksikannya dengan mata kepalanya masa depan Agama yang diberitakan kepadanya, serta keabadian mutlak yang akan dimilikinya, sampai bumi dan segala isinya kembali ke tangan Maha Penciptanya . . . .

Namun semuanya itu, segala yang terdapat pada dirinya, begitupun pada Agamanya, serta keberhasilan yang belum pernah disaksikan dunia tolok bandingnya, menurun pandangannya tidak lebih dari sekeping batu bata pada sebuah bangunan . . .! Hal ini dinyatakan oleh orang besar itu dengan sejelas-jelasnya pada ucapannya:

Perumpamaan diriku dengan para Nabi sebelumku, adalah seperti seorang yang membangun sebuah gedung, hingga diselesaikannya dengan amat indah dan sempurna, kecuali suatu tempat sebesar batu bata di salah satu pojoknya.

Orang-orang berkeliling dan sama-sama heran menyaksikannya. Kata rnereka: Kenapa tidak diselesaikan tempat sebesar batu bata ini?” Nah , akulah batu bata yang menutupi lobang kecil itu, dan akulah yang jadi penutup dari semua Nabi. .!

Maka segala kehidupan yang dijalaninya ….
Segala perjuangan dan kepahlawanannya ….
Segala kebesaran dan keluhurannya ….

Segala kemenangan yang telah dicapai oleh Agamanya di waktu hidupnya, dan segala kebahagiaan yang diketahuinya akan dicapai setelah wafatnya . . . . Semua itu baginya tidak lebih dari batu bata . . . , hanya sekeping batu bata pada sebuah bangunan antik dan raksasa … !

Beliau sendirilah yang mema’lumkan hal ini, yang mengatakan dan terus-menerus menguatkannya. Kemudian ucapan yang dikeluarkannya ini tidaklah dimaksudkannya untuk menutupi kehausannya akan kebesaran itu, tetapi dengan segala kerendah­an hati pendirian itu ditegaskannya sebagai suatu hal yang semestinya demikian, hingga tanggung jawab menyampaikan dan menyebarkannya merupakan sebagiari dari esensi kerasul­annya … !

Sebabnya ialah karena kerendahan hati itu, walaupun me­rupakan salah satu tabi’at di antara tabi’at-tabi’at Muhammad saw. yang telah berurat berakar, bukanlah menjadi bukti yang memperkuat dan memperkukuh kebesarannya . . . ! Kebesaran Rasulullah mencapai puncak yang tinggi dan dasar yang dalam, hingga menyebabkannya sebagai suatu bukti yang tangguh dan tak dapat digugat tentang dirinya … ! .

Nah, inilah dia Mahaguru manusia dan penutup segala Nabi itu! Inilah dia cahaya gemilang yang disaksikan ummat selagi hidup di kalangan mereka sebagai manusia, kemudian setelah kepergiannya disaksikan mereka sebagai suatu hakikat kenyataan yang takkan hilang dari kenangan … !

Dan kini , sewaktu kita pergi menjelang beberapa orang shahabatnya yang mulia di halaman-halaman berikut dari buku ini, di kala kita heran takjub menyaksikan keimanan dan pengurbanan mereka, dan keluhuran cita yang mereka bina dan tak ada taranya itu, maka kita akan dapat menangkap secara jelas sebab-sebab keluarbiasaan ini. Yaitu tiada lain dari cahaya yang menjadi ikutan dan pedoman rnereka. Dan tiada lain dari Muhammad Rasulullah, yang dibekali Allah secara lengkap kemampuan melihat kebenaran dan kebesaran jiwa, menyebab­kan hidup ini jadi bernilai, dan jalan yang akan dilalui terang benderang …. .

About these ads

Satu Tanggapan to “Karakteristik Enam Puluh Sahabat Rasulullah”

  1. Karakteristik Enam Puluh Sahabat Rasulullah « Ayo-membaca Says:

    [...] Thanks to : anuraga Prakata Cahaya yang Mereka Pedomani-1 Cahaya yang Mereka Pedomani-2 [...]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 395 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: