21. ABDULLAH IBNU RAWAHAH


ABDULLAH IBNU RAWAHAH ” YANG BERSEMBOYAN : ” WAHAI DIRI . . . JIKA KAU TIDAK GUGUR DI MEDAN JUANG . . . KAU TETAP AKAN MATI WALAU DI ATAS RANJANG “

karakteristik 60 sahabat rasulullahWaktu itu Rasulullah saw. sedang duduk di suatu tempat dataran tinggi kota Mekah, menghadapi para utusan yang datang dari kota Madinah, dengan bersembunyi-sembunyi dari kaum Quraisy.

Mereka yang datang ini terdiri dari duabelas orang utusan suku atau kelompok yang kemudian dikenal dengan nama Kaum Anshar (penolong Rasul). Mereka sedang dibai’at Rasul (diambil janji sumpah setia) yang terkenal pula dengan nama Bai’an al-Aqabah al-Ula (Aqabah pertama). Merekalah pembawa dan penyiar Islam pertama ke kota Madinah, dan bai’at merekalah yang membuka jalan bagi hijrah Nabi beserta pengikut beliau, yang pada gilirannya kemudian, membawa kemajuan pesat bagi Agama Allah yaitu Islam …. Maka salah seorang dari utusan yang dibai’at Nabi itu, adalah Abdullah bin Rawahah.

Dan sewaktu pada tahun berikutnya, Rasulullah saw. mem­baiat lagi tujuhpuluh tiga orang Anshar dari penduduk Madinah pada bai’at ‘Aqabah kedua, maka tokoh Ibnu Rawahah ini pun termasuk salah seorang utusan yang dibai’at itu.

Kemudian sesudah Rasulullah bersama shahabatnya hijrah ke Madinah dan menetap di sana, maka Abdullah bin Rawahah pulalah yang paling banyak usaha dan kegiatannya dalam mem­bela Agama dan mengukuhkan sendi-sendinya. Ialah yang paling waspada mengawasi sepak terjang dan tipu muslihat Abdullah bin Ubay (pemimpin golongan munafik) yang oleh penduduk Madinah telah dipersiapkan untuk diangkat menjadi raja sebelum Islam hijrah ke sana, dan yang tak putus-putusnya berusaha menjatuhkan Islam dengan tidak menyia-nyiakan setiap kesem­patan yang ada. Berkat kesiagaan Abdullah bin Rawahah yang terus-menerus mengikuti gerak-gerik Abdullah bin Ubay dengan cermat, maka gagallah usahanya, dan maksud-maksud jahatnya terhadap Islam dapat dipatahkan.

Ibnu Rawahah adalah seorang penulis yang tinggal di suatu lingkungan yang langka dengan kepandaian tulis baca. Ia juga seorang penyair yang lancar, yang untaian syair-syairnya me­luncur dari lidahnya dengan kuat dan indah didengar ….

Semenjak ia memeluk Islam, dibaktikannya kemampuannya bersyair itu untuk mengabdi bagi kejayaan Islam …. Dan Rasulullah menyukai dan meni’mati syair-syairnya dan sering beliau minta untuk lebih tekun lagi membuat syair.

Pada suatu hari, beliau duduk bersama para shahabatnya, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Rawahah, lalu Nabi bertanya kepadanya: “Apa yang anda lakukan bila anda hendak meng­ucapkan syair?”

Jawab Abdullah: “Kurenungkan dulu, kemudian baru ku­ucapkan”. Lalu teruslah ia mengucapkan syairnya tanpa bertangguh, demikian kira-kira artinya secara bebas:

Baca entri selengkapnya »

JA’FAR BIN ABI THALIB


JASMANI MAUPUN PERANGAINYA MIRIP ROSULULLOH SAW

karakteristik 60 sahabat rasulullah

Perhatikan kemudaannya yang gagah tampan serta ber­wibawa …. Perhatikan warna kulitnya yang cerah bercahaya . . . . Perhatikan kelemah lembutannya, sopan santun, kasih sayangnya, kebaikannya, kerendahan hati serta ketaqwaannya . . . . Perhatikan keberaniannya yang tak kenal takut, kepe- murahannya yang tak kenal batas. Perhatikan kebersihan hidup dan kesucian jiwanya. Perhatikan kejujuran dan amanahnya ….

Lihatlah, pada dirinya bertemu segala pokok kebaikan, keutamaan dan kebesaran.

Anda jangan heran tercengang, karena anda seKarang berada di hadapan seorang manusia yang mirip dengan Rasulullah dalam ujud tubuh dan tingkah laku atau budi pekertinya.

Anda berada di muka seseorang yang telah diberi gelar oleh Rasul sendiri sebagai “Bapak si miskin”. Anda berhadapan dengan seseorang yang diberi gelar “Si Bersayap dua di surga”. Anda di muka “Si Burung surga” yang selalu berkicau. Siapakah itu . … ? Itulah Ja’far bin Abi Thalib! Salah seorang pelopor ter­nama Islam.

Perintis utama yang terkemuka, di antara orang- orang yang telah melibatkan seluruh kehidupannya dan memiliki saham besar dalam menempa hati nurani kehidupan ….

Ia datang kepada Rasulullah saw memasuki Agama Islam, dengan mengambil kedudukan tinggi di antara mereka yang sama- sama pertama kali beriman. Ikut pula isterinya Amma binti ‘Umais menganut Islam pada hari yang sama. Keduanya selaku suami isteri ikut menanggung derita, dengan seluruh keberanian dan ketabahan tanpa memikirkan kapan waktu penderitaan itu berakhir.

Sewaktu Rasulullah memilih shahabat-shahabatnya yang akan hijrah ke Habsyi (Ethiopia), maka tanpa berfikir panjang Ja’far bersama isterinya tampil mengemukakan diri, hingga tinggal di sana selama beberapa tahun. Di sana mereka dikaruniai Allah tiga orang anak yaitu: Muhammad, Abdullah dan ‘Auf.

Selama di Ethiopia, maka Ja’far bin Abi Thaliblah yang tampil menjadi juru bicara yang lancar dan sopan, serta cocok menyandang nama Islam dan utusannya. Demikian adalah hikmat Allah yang tidak ternilai yang telah dikaruniakan kepadanya, berupa hati yang tenang, akal fikiran yang cerdas, jiwa yang mampu membaca situasi dan kondisi serta lidah yang fasih.

Dan sekalipun saat-saat pertempuran Muktah yang dihadapi­nya kemudian sampai ia gugur sebagai salah seorang syuhada, merupakan saatnya yang terdahsyat, teragung dan terabadi, tetapi hari-hari berdialog yang dilakukannya dengan Negus, tak kurang dahsyat dan seramnya, bahkan tak kurang hebat nilai martabatnya …. Sungguh hari itu adalah hari istimewa dan penampilan yang mempesona ….

Baca entri selengkapnya »

Indahnya Taman Surga

19. ZAID BIN HARITSAH


TAK ADA ORANG YANG LEBIH DICINTAINYA DARIPADA ROSULULLOH SAW

Rosululloh saw. berdiri melepas balatentara Islam yang akan berangkat menuju medan perang Muktah, melawan orang- orang Romawi. Beliau mengumumkan tiga nama yang akan memegang pimpinan dalam pasukan secara berurutan, sabdanya:

“Kalian semua berada di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah! Seandainya ia tewas, pimpinan akan diambil alih oleh Ja’far bin Abi Thalib; dan seandainya Ja’far tewas pula, maka komando hendaklah dipegang oleh Abdullah ibnul Rawahah”.

Siapakah Zaid bin Haritsah itu ? Bagaimanakah orangnya ? Siapakah pribadi yang bergelar “Pencinta Rosululloh itu?” Tampang dan perawakannya biasa saja, pendek dengan kulit coklat kemerah-merahan, dan hidung yang agak pesek. Demikian yang dilukiskan oleh ahli sejarah dan riwayat. Tetapi sejarah hidupnya hebat dan besar.

Sudah lama sekali Su’da isteri Haritsah berniat hendak berziarah ke kaum keluarganya di kampung Bani Ma’an. Ia sudah gelisah dan seakan-akan tak shabar lagi menunggu waktu ke­berangkatannya. Pada suatu pagi yang cerah, suaminya ialah ayah Zaid, mempersiapkan kendaraan dan perbekalan untuk keperluan itu. Kelihatan Su’da sedang menggendong anaknya yang masih kecil, Zaid bin Haritsah. Di waktu ia akan menitipkan isteri dan anaknya kepada rombongan kafilah yang akan berangkat bersama dengan isterinya, dan ia harus menunaikan tugas pekerjaannya, menyelinaplah rasa sedih di hatinya, disertai perasaan aneh, menyuruh agar ia turut serta mendampingi anak dan isterinya. Akhirnya perasaan gundah itu hilang jua. Kafilah pun mulai bergerak memulai perjalanannya meninggalkan kampung itu, dan tibalah waktunya bagi Haritsah untuk meng­ucapkan selamat jalan bagi putera dan isterinya ….

Demikianlah, ia melepas isteri dan anaknya dengan air mata berlinang. Lama ia diam terpaku di tempat berdirinya sampai keduanya lenyap dari pandangan. Haritsah merasakan hatinya tergoncang, seolah-olah tidak berada di tempatnya yang biasa. Ia hanyut dibawa perasaan seolah-olah ikut berangkat bersama rombongan kafilah.

Baca entri selengkapnya »

Kisah Perang Khandak

Kisah Perang Badar

Kisah Jurais dan Makbulnya Doa Ibu

Kisah Nabi Dzulkifli

Kisah Nabi Zakaria dan Wanita Suci

16. KHABBAB BIN ARATS


GURU BESAR DALAM BERQURBAN

Serombongan orang Quraisy mempercepat langkah mereka menuju rumah Khabbab, dengan maksud hendak mengambil pedang-pedang pesanan mereka. Memang, Khabbab seorang pandai besi yang ahli membuat alat-alat senjata terutama pedang, yang dijualnya kepada penduduk Mekah dan dikirimnya ke pasar-pasar.

Berbeda dengan biasa, Khabbab yang hampir tidak pernah meninggalkan rumah dan pekerjaannya, ketika itu tidak dijumpai oleh rombongan Quraisy tadi di rumahnya. Mereka pun duduklah menunggu kedatangannya.

Beberapa lama antaranya, datanglah Khabbab, sedang pada wajahnya terlukis tanda tanya yang bercahaya dan pada kedua matanya tergenang air alamat sukacita . . . , maka diucapkannya salam kepada teman-temannya itu lalu duduk di dekat mereka.

Mereka segera menanyakan kepada Khabbab: “Sudah selesai­kah pedang-pedang kami itu, hai Khabbab?”

Sementara itu air mata Khabbab sudah kering, dan pada kedua matanya tampak sinar kegembiraan, dan seolah-olah berbicara dengan dirinya sendiri, katanya: “Sungguh, keadaannya amat mena’jubkan!”

Orang-orang itu kembali bertanya kepadanya:

” Hai Khabbab, keadaan mana yang kamu maksudkan . . . ? Yang kami tanyakan kepadamu adalah soal pedang kami, apakah sudah selesai kamu buat . . . ? “

Dengan pandangannya yang menerawang seolah-olah mimpi, Khabbab lalu bertanya: “Apakah tuan-tuan sudah melihatnya . . . ? Dan apakah tuan-tuan sudah pernah mendengar ucapannya. . . ?”

Mereka saling pandang diliputi tanda tanya dan keheranan . . . Dan salah seorang di antara mereka kembali bertanya, kali ini dengan suatu muslihat, katanya: “Dan kamu, apakah kamu sudah melihatnya, hai Khabbab …?”

Khabbab menganggap remeh siasat lawan itu, maka ia berbalik bertanya: “Siapa maksudmu . . . ?”

“Yang saya tuju ialah orang yang kamu katakan itu!” ujar orang tadi dengan marah.

Maka Khabbab memberikan jawabannya setelah memper­lihatkan kepada mereka bahwa ia tak dapat dipancing-pancing. Jika ia mengakui keimanannya sekarang ini di hadapan mereka, bukanlah karena hasil muslihat dan termakan umpan mereka, tetapi karena ia telah meyakini kebenaran itu serta menganutnya, dan telah mengambil putusan untuk menyatakannya secara terus terang …. Maka dalam keadaan masih terharu dan terpesona, serta kegembiraan jiwa dan kepuasannya, disampaikanlah jawab­an, katanya:

“Benar . . . , saya telah melihat dan mendengarnya . . . ! Saya saksikan kebenaran terpancar daripadanya, dan cahaya bersinar-sinar dari tutur katanya ….!”

Baca entri selengkapnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 397 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: