Karakteristik Enam Puluh Sahabat Rasulullah


karakteristik 60 sahabat rasulullahThank : Anuraga

Cahaya Yang Mereka Pedomani – 1

Mahaguru macam manakah beliau … ? Manusia corak apakah … ?
Beliau yang tak ubah sebagai telaga atau lubuk yang dalam .` . . , yang penuh dengan kebesaran, kejujuran dan ketinggian … ! Sungguh, orang-orang yang terpesona melihat kebesarannya itu taklah dapat disalahkan, sementara orang-orang yang sedia menebus dirinya dengan nyawa mereka, merekalah yang beroleh keberuntungan . . .! Muhammad saw. putera Abdullah . . . , utusan Allah kepada ummat manusia, dalam arena kehidupan yang panas membara … !

Rahasia dan syarat-syarat apakah yang dimilikinya secara sempurna , hingga ia berhasil menjadi seorang manusia yang mengatasi seluruh manusia ? Dan tangan keramat macam apakah yang ditadahkannya ke langit, hingga seluruh pintu rahmat, pintu ni’mat dan petunjuk terbuka baginya selebar-lebarnya … ? lebarnya … ?

Keteguhan iman dan kekuatan kemauan macam apakah … ? Kejujuran , ketulusan dan kesucian corak manakah . . .? Kerendahan hati, kecintaan dan kesetiaan seperti apakah … ?, Lalu menjunjung tinggi kebenaran …!

Dan kemudian penghargaan terhadap hidup dan segala makhluq yang hidup!

Sungguh, Allah telah melimpahkan padanya karunia se­banyak-banyaknya, menyebabkannya mampu memikul panji ­panji-Nya dan membicarakan asma-Nya , bahkan menjadikannya sanggup sebagai penutup dari semua Rasul-Nya . . .! Itulah sebabnya karunia Allah kepadanya tidak terkira besarnya, Dan betapa- juga asyiknya akal fikiran , ilham maupun tulisan mem­bicarakannya dan menggubah lagu-lagu kebesarannya , tapi seolah-olah semua itu tidak akan mampu mencapai tempatnya, dan tidak pernah mampu bibir menuturkannya. . .,.

Dan andainya lembaran-lembaran pertama dari buku ini menyajikan pembicaraan mengenai Rasulullah saw. sebagai pembuka kata, maka tidaklah maksudnya ingin hendak menguraikannya dengan sepertinya, atau mengemukakan tokoh Rasulullah itu kepada pembaca dengan selengkapnya: Itu tidak Iebih dari ujung-ujung jari yang dengan segala kerendahan hati menunjukkan keunggulan dan kebesarannya yang telah memikat hati manusia dan merebut cinta kasih yang tiada taranya dari orang-orang Muhajirin dan Anshar, yang sebagian mereka kita paparkan riwayatnya dalam buku ini.

Belum lagi kehidupan terhirup akan harum wanginya , maka.ia telah menjadikan angin dan bayu sebagai pertanda gembira bagi kedatangannya, sebagai utusan ke setiap pelosok bumi dan daerah-daerah kediaman insani, membawa prinsip-prinsip da’wah dan pembekalan da’i, kebesaran sang guru dan kebenaran ajarannya, cahaya risalat dan rahmat Rasul-Nya ….

Memang , hanya itulah maksud tujuan , tidak lebih dan tidak kurang ! Yaitu , agar kita dapat melihat dalam cahaya terang dari sinar cemerlangnya yang benderang , sebagian bukti ke besarannya yang luar biasa,’ yang telah memikat cinta kasih orang beriman, dan menyebabkan mereka memandangnya , sebagai ikutan dan pedornan, sebagai guru dan teladan … !

Alasan-alasan apakah yang telah menyebabkan pemimpin­pemimpin bangsanya berlomba-lomba untuk menerima ajaran dan Agamanya: Abu Bakar, Thalhah, Zubair, Utsman bin ‘Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash dan lain-lain, yang dengan tindakan mereka beriman itu berarti mereka rela melepaskan kemuliaan dan kemegahan yang melingkungi mereka selama ini. Dan pada waktu yang bersamaan sedia menghadapi; kehidupan yang bergejolak, penuh dengan kesulitan , perjuangan dan beban penderitaan?

Apa kira-kira yang telah menyebabkan golongan jelata di antara kaumnya berlindung diri kepadanya, dan segera bernaung di bawah panji-p-anji dan bendera da’wahnya ? Padahal mereka mengetahui bahwa ia tidak mernpunyai harta maupun senjata, serta tidak sunyi dari marabahaya dan dikejar-kejar bencana yang mengincarnya dengan amat kejamnya, tanpa kawan pem­bela yang akan melindunginya . . .?

Apakah yang mendorong adikara Jahiliyah Umar bin Khot­thob yang sedang mencarinya dengan maksud hendak memenggal kepalanya, tiba-tiba berbalik haluan lalu pergi mencari musuh musuh dan para penentangnya, untuk rnenebas kepala mereka dengan pedang itu juga, yang kini kian bertambah tajam di­sebabkan keirnanannya … ?

Apakah yang menyebabkan orang-orang pilihan dan ter­kemuka Madinah pergi menemuinya untuk bai’at dan berjanji akan. sama-sarna mendaki bukit yang tinggi dan menuruni lurah yang dalam, padahal mereka menyadari bahwa peperangan yang. akan terjadi di antara mereka dengan orang-orang Quraisy akan berkecamuk dengan amat dahsyatnya … ?

Apakah yang menyebabkan jumlah orang-orang beriman kian bertambah dan tak pernah berkurang, padahal setiap pagi dan petang ia selalu meneriakkan pada mereka: “Aku tidak mempunyai wewenang untuk memberimu manfa’at atau mu­dlarat, dan aku tidak mengetahui apa yang akan terjadi atas diriku begitu juga atas diramu sekalian!”

Apakah pula yang menyebabkan. mereka percaya bahwa pelosok dunia akan dibebaskan dari kekufuran dan keni’matan dunia dipersembahkan untuk mereka, dan bahwa telapak kaki mereka akan bergelimang dengan kekayaan dunia melintasi berbagai mahkota kerajaan. Apakah pula yang menyebabkan mereka percaya bahwa al-Quran yang ketika itu mereka baca secara sembunyi-sembunyi, akan didengungkan ke segenap penjuru dengan nada keras dan alunan tinggi, bukan di ling­kungan kaum mereka saja atau di jazirah Arab semata, tetapi meluas ke seluruh kolong langit dan menembus kurun waktu … ?

Maka apakah kiranya yang menyebabkan mereka yakin akan kebenaran ramalan yang dinubuwatkan Rasul mereka, pada hal di kala mereka berpaling kiri dan kanan dan melihat muka belakang, tak ada yang mereka temui kecuali tanah gersang dan pasir membara , bahkan batu-batu panas bak lambaian neraka, dan pohon-pohon kering yang pucuknya tak ubah kepala setan yang sedang dirajam siksa … ?
Dan apa gerangan yang telah menyebabkan kalbu mereka dipenuhi keyakinan dan kepekatan iman ini … ?

Tiada lain hanyalah putera Abdullah itu …… !

Dan siapa pula yang dapat mencapai semua keutamaan itu kecuali dirinya sendiri. Sungguh, telah mereka saksikan keutama­an dan keistimewaannya: Telah mereka lihat kesucian , keseder­hanaan , kejujuran , keberariian dan keteguhan pendiriannya.

Mereka lihat ketinggian dan rasa santunnya, akal budi dan buah fikirannya. Mereka lihat matahari bersinar, memancarkan ke­benaran dan kebesarannya. Mereka dengar air kehidupan mulai mengalir ke pembuluh hayat, demi Muhammad saw. itu me-. nyiraminya dengan wahyu yang diterimanya pada hari-hari itu d.an dengan renungan-renungannya di masa lalu … !

Mereka saksikan semua itu , bahkan berlipat ganda dari itu , bukan dengan mendengarnya dari mulut ke mulut, tetapi secara berhadap-hadapan muka dan melihatnya dengan mata kepala , baik mata lahir , maupun mata bathin mereka … !

Dan demi orang-orang Arab tadi menyaksikan peristiwa ­peristiwa yang kita sebutkan itu serta selesai melakukan penye­lidikan mereka , maka tak perlulah lagi diceritakan hal-hal selanjutnya. . .!

Mereka adalah ahli selidik dan siasat. Salah seorang di antara mereka melihat jejak kaki di tengah jalan, maka ia akan dapat mengatakan kepada anda: “Ini, adalah jejak telapak kaki si Anu putera si Anu”. Atau demi tercium olehnya bau nafas orang yang menjadi lawan bicaranya, maka ia akan mengetahui apa yang tersembunyi dalam dada orang itu, apakah kebenaran ataukah dusta ….

Mereka telah melihat Muhammad saw. dan hidup semasa dengannya semenjak ia lahir ke alam dunia. Tidak satu pun yang tersembunyi . bagi mereka mengenai perihidupnya .

Bahkan masa kecilnya , yakni suatu masa yang tidak begitu menjadi perhatian kecuali bagi keluarga dan orang tua dari anak itu sendiri Terhadap Muhammad saw., masa kecilnya itu disaksikan dan telah menjadi perhatian bagi seluruh penduduk Mekah.

Sebabnya ialah karena masa kanak-kanaknya tidaklah seperti masa kanak-kanak anak lain. Perhatian orang tertoleh kepadanya melihat kedewasaannya yang cepat dan amat pagi , begitu pun peralihannya yang segera dari kegemaran bermain sebagai anak­ anak kepada sikap bersungguh-sungguh dari orang dewasa.

Sebagai contoh misalnya orang-orang Quraisy sering mem­perkatakan cucu Abdul Mutthalib ini yang tidak menyukai permainan anak-anak serta obrolan mereka di malam hari. Setiap ada orang yang mengajaknya ikut serta , maka jawabnya: “Tidaklah untuk itu aku dicipta!”

Juga sering menjadi pembicaraan mereka berita yang disiar­kan oleh ibu susunya Halimah ketika ia mengantarkannya kem­bali kepada keluarganya. Hasil penglihatan dan pengalamannya mengenai anak susunya selama ini, menyebabkannya yakin bahwa itu bukanlah anak biasa, dan bahwa hal itu merupakan suatu rahasia terpendam yang hanya diketahui oleh Maha Pencipta, tetapi suatu waktu kelak pasti akan terbuka oleh per­edaran masa ….

Mengenai masa remajanya . . . , aduhai alangkah bersih dan sucinya, bahkan lebih terang dan lebih terbuka lagi, dan per­hatian kaumnya lebih tertumpah serta perbincangan lebih meluas! Jangan dikata tentang masa dewasanya, yang menjadi tumpuan pengamatan, pusat pendengaran dan penglihatan.

Di samping itu ia menjadi hati nurani masyarakat dan bangsa­nya, hingga segala gerak-gerik dan tindak-tanduknya menjadi ukuran bagi penilaian rnereka terhadap barang haq, apa yang baik dan yang terpuji : . . .
Bila demikian halnya, maka ia merupakan suatu kehidupan yang gamblang dapat bicara. Semenjak dari awal hingga akhirnya , dari buaian ke liang lahad! Segala pandangan , segala langkah dan ucapan, sekalian gerak-gerik bahkan sekalian impian, cita-cita dan angan-angan hatinya, semenjak hari pertama ia lahir ke dunia , semua itu pantas untuk menjadi milik ummat manusia.

Seolah-olah dengan itu Allah Ta’ala hendak mema’lumkan kepada ummat manusia: “Inilah utusan-Ku kepada kamu semua, sarananya ialah akal dan logika; dan inilah dari masa bayinya perihidupnya terbuka. Maka periksalah dengan segala akal budi dan pertimbangan logika yang ada, padamu, dan bawalah ke batu ujian … !”

Nah , adakah kiranya hal-hal yang meragukan ? Terdapatkah kepalsuan ? Pernahkah ia berbohorig agak sekali, pernahkah ia berkhianat ? Pernahkah. namanya ternoda ? Pernahkah ia mem­buka ‘auratnya ? Adakah seseorang yang dianiayanya , atau adakah janji yang dilanggarnya ? Adakah silaturrahmi yang diputuskannya , tanggung jawab yang dilemparkan dari pundak­nya atau perikemanusiaan yang diabaikannya ? Pernahkah ia menghina orang dan pernahkah ia menghadapkan mukanya menyembah berhala? Periksalah dengan cermat, selidiki dengan teliti!.

Tidak satu tahap pun dari kehidupannya yang.diselubungi kabut tertutup tirai besi ! .

Maka seandainya kehidupannya sebagai anda lihat dan saksikan demikian bersih, demikian benar dan luhur, apakah dapat diterima oleh akal dan fikiran yang sehat, apabila laki-laki yang seperti itu corak kehidupannya akan berubah menjadi seorang pembohong setelah mencapai 40 tahun usia . . .?

Kemudian , terhadap siapa ia berbohong . . ..?
Apakah terhadap Allah swt , hingga diakuinya bahwa ia utusan­Nya , yang dipilih serta diangkat-Nya, dan menerima wahyu daripada-Nya … ?

Tidak … !

Demikian menurut kesaksian dan kenyataan. Dan demikian pula pendapat akal dan fikiran! Maka metoda mana yang anda­gunakan. dalam berfikir . . .? Dan haq , mana yang anda pakai untuk menyangkal …

Menurut perkiraan kita , inilah dia daya pikat yang menarik orang-orang beriman angkatan pertama kepada Rasulullah. saw., baik golongan Muhajirin yaitu yang ikut hijrah di antara mereka, maupun golongan Anshar, yakni yang menyambut saudara-saudaranya jadi pembela.

Daya tarik itu demikian kuat dan menentukan, tak dapat ia bertangguh dan tak ada kebimbangan. Karena manusia yang memiliki kehidupan yang suci dan menerangi ini , tak mungkin akan berbohong kepada Allah! Maka dengan pandangan tajam dan menembus ini,.orang-orang beriman melihat nur atau cahaya Ilahi,hingga mereka ikuti dan pedomani . . .!

Mereka akan hersyukur atas pandangan itu, ketika di be­lakang nanti mereka lihat bahwa Rosululloh ditolong oleh Allah swt., dan seluruh jazirah Arab tunduk taat di bawah telapak kakinya , serta pintu rizqi terbuka lebar bagi mereka, suatu hal yang tidak mereka duga dari semula.

Kiranya dirinya sekarang tidak berbeda dengan dirinya dulu, tiada bertambah kecuali sifat zuhud dan keshalihannya , hidup sederhana dan bersahaja , tiada terpikat oleh dunia , hingga disaat kembali menemui Allah, mereka dapati ia tidur di atas anyaman daun kurma , hingga pelepahnya yang keras itu, ber­bekas di sekujur tubuhnya . … . !

Juga mereka bersyukur ketika menyaksikan bahwa Rosul yang benderanya berkibar di seluruh pelosok dengan megah dan jayanya, suatu waktu naik ke atas mimbar dan sambil me­nangis menghadapkan wajahnya kepada manusia , katanya :

Barangsiapa yang pernah terpukul punggungnya, maka inilah punggungku balaslah … !
Barangsiapa yang pernah kuambil hartanya , maka inilah hartaku, ambillah . . .!

Mereka menyaksikan peristiwa ketika pamannya (Abbas) meminta agar diberi suatu jabatan yang juga dapat dipegang oleh orang-orang Islam kebanyakan , maka dengan lemah lembut ditolaknya , sambil katanya :

Demi Allah wahai paman , kita tidak akan memberihan jabatan ini hepada orang yang meminta dan mengharap­kannya. . .!

Ketika mereka melihatnya , tidak hanya turut merasakan penderitaan yang dirasai oleh manusia semata, tetapi juga meng­gariskan prinsip bagi diri dan keluarganya yang sekali-kali tak boleh mereka langgar atau menyimpang dari padanya , yaitu: Hendaklah mereka orang yang pertama kali lapar bila masa kelaparari tiba , dan orang yang terakhir sekali kenyang bila kebetulan dalam masa ma’mur dan jaya … ! .

Memang, orang-orang beriman angkatan pertama itu akan bersyukur atas pengamatan mereka yang tepat di kala melihat sesuatu persoalan, yakni setelah mereka lebih dulu memanjatkan puji dan syukur ke hadhirat Alloh yang telah menunjuki mereka kepada keimanan.

Dan mereka akan menyaksikan pula bahwa perikehidupan yang menjadi bukti kebenaran pemiliknya, ketika ia menyatakan kepada mereka “Sesungguhnya aku ini menjadi utusan Alloh kepadamu”, sungguh agung dan luhur, hingga dengan keagungan dan keluhurannya itu menjadi bukti terkuat pula atas kebenaran maha guru dan Rosul utama itu. Dan tingkat keagungan dan ketinggiannya itu tak pernah turun agak sesaat atau luntur agak sekejap, hanya tetap bertahan dari waktu kecilnya sampai ia wafat.

Dan sepanjang jalan kehidupan ini dan setelah ia sampai ke puncaknya, ternyata dengan gamblang seperti cahaya siang, bahwa pemilik kehidupan dan risalah ini , sekali-kali tidak ber­usaha ; untuk merebut nama, kedudukan atau harta. Ketika semua ini datang kepadanya terikat pada tiang-tiang benderanya yang jaya, ditolaknya mentah-mentah, dan seperti biasa sampai ke saatnya yang akhir, ia hidup sebagai orang yang shalih dan tekun beribadat.

Seujung rambut pun dirinya tak hendak bergeser dari tujuan hidupnya yang mulia. Dan tak pernah ia melanggar ikrarnya kepada Allah , baik dalam beribadat maupun dalam berjihad.

Belum lagi datang sepertiga yang akhir dari malam, ia telah bangkit berdiri, lalu wudhu dan sebagai kebiasaannya yang sudah-sudah dan tak pernah berubah , ia .munajat kepada Allah lalu menangis , kemudian shalat sambil menangis . . . . –

Harta datang kepadanya bertumpuk-tumpuk , tapi sedikit pun ia tak berubah, dan tiadalah yang diambilnya untuk dirinya kecuali seperti yang diambil oleh orang yang paling bawah dan rakyat yang paling melarat . . . , kemudian ketika ia wafat, didapati orang baju besinya telah tergadai pula …

Ketika akhirnya seluruh negeri tunduk menerima da’wahnya , dan sebagian besar , raja-raja buana berdiri dengan hormat dan ta’dhim sewaktu menerima surat-suratnya yang mengajak mereka masuk Islam , maka tiada secuil pun kesombongan dan kemegah­an berani mendekat kepada dirinya , walau dari jarak yang jauh daripadanya. Dan tatkala dilihatnya beberapa orang yang ber­kunjung kepadanya merasa gugup , dan takut maka dikuatkannya semangat mereka , katanya :

“Jangan malu-malu dan jangan takut ! , Ibuku adalah seorang perempuan yang biasa makan dendeng di Mekah ! ” .

Semua yang menolak Agamanya telah meletakkan senjata , dan mereka sama menyerahkan leher untuk menerima dengan rela putusan yang akan dijatuhkannya, sementara sepuluh ribu bilah pedang di tangan Kaum Muslimin beracungan dan berkilat­ kilatan di bukit-bukit sekeliling Mekah , tetapi ucapan yang dikeluarkannya kepada mereka hanyalah:

” Pergilah kalian ! semua kalian bebas.”

Bahkan sampai-sampai kepada menyaksikan kemenangan yang menjadi haknya dan untuk itu ia telah menghabiskan usianya, tidak digunakannya dengan sepertinya.

Dalam perarakan di hari pembebasan itu , ia berjalan dengan menundukkan kepala , hingga sulit bagi orang-orang untuk melihat wajahnya , sambil berulang-ulang membaca dengan mulut dan dalam hatinya ucapan syukur yang bercampur deNgan tetesan air mata , dan dengan rendah diri menadahkannya kepada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar hingga akhirnya sampailah ia di Ka’bah . . . , lalu berhadapan dengan kumpulan berhala. Maka dirubuh­kannya berhala-berhala itu dengan ternbilang-tembilangnya sambil mengucapkan :

“Telah datang yang haq dan telah- rubuh yang bathil ! Sesungguhnya barang bathil itu pasti rubuh.”

Nah, masih adakah lagi keraguan terhadap risalahnya . . .? Suatu pribadi yang telah membaktikan seluruh kehidupannya untuk da’wah , tanpa maksud-maksud tertentu atau ada udang di balik batu , baik berupa kekayaan atau kemegahan , pengaruh atau kedudukan ; bahkan keabadian dirinya dalam sejarah pun tidak masuk perhitungannya , karena yang diimaninya hanyalah keabadian di sisi Allah swt .

Suatu pribadi yang menjalani kehidupan dari masa kecilnya hingga usia 40 tahun dalam kesucian dan renungan …. kemudi­an dari 40 tahun sampai akhir kesudahan diisinya dengan ber ibadat dan membimbing ummat, dengan berjuang dan berperang , hingga pintu-pintu gerbang dunia terbuka lebar untuknya , maka disingkirkannya segala kemuliaan dan kemegahan palsu , dan ia tetap menekuni akhlaq , ibadat dan tugas risalat!

Masihkah ada kesempatan untuk menuduhnya sebagai pendusta . . .? Di manakah kiranya letak kedustaannya itu ? hendakkah pribadi itu suci daripadanya ? Dan tidakkah Rasul itu bebas dan terhindar daripadanya ?

Dulu kita kemukakan bahwa logika dan akal fikiran se­karang juga demikian , menjadi bukti utama atas kebenaran Nabi Muhammad Rosulullah , ketika ia berkata “Sesungguhnya aku ini Rosululloh!” tidaklah dapat diterima oleh logika dan akal yang sehat bahwa orang yang seperti itu kehidupannya dari awal hingga akhir, akan berbnhong terhadap Allah!

Maka orang-orang Mu’min angkatan pertama yang segera menerima seruannya dan kita beroleh kehormatan mengenal sekelumit dari riwayat mereka pada lembaran-lembaran buku ini, setelah hidayat dan taufiq ‘dari Allah Ta’ala, juga didorong oleh bukti logika dan akal fikiran ini!

Begitu keadaan Muhammad saw. sebelum diangkat menjadi Rosul! Begitu pula ia setelah diangkat ! Demikian ketika ia dalam ayunan ! Dan demikian pula ketika berada di ambang kematiam ! Apakah sepanjang hayat dan selama hidupnya itu ada sesuatu yang meragukan ? Bahkan walau agak sedikit pun?

Sekarang marilah kita berdiri sejenak dekat tahun-tahun pertama dari kerasulannya ! Tahun-tahun yang jarang kita jumpai bandingannya dalam sejarah mengenai keteguhan , kejujuran dan kebesaran . . .! Tahun-tahun itu lebih mengungkapkan dari tahun-tahun lainnya tentang Mahaguru dan Pembimbing ke­manusiaan ini: Tahun-tahun yang merupakan suatu prakata dari sebuah buku yang hidup , yaitu buku kehidupan dan kepahlawan­annya, bahkan sebelum dan sesudah yang lain, merupakan pengantar bagi mu’jizat-mu’jizatnya .

Selama tahun-tahun tersebut di kala Rosululloh berada sebatang kara seorang diri , ditinggalkannya segala suasana santai, tenteram dan damai, lalu tampil ke hadapan manusia mengemukakan apa yang tidak mereka sukai, atau lebih tepat barang yang mereka benci! la tampil di hadapan mereka dengan menujukan ucapannya kepada otak dan fikiran mereka …. Dan alangkah sulitnya pekerjaan berdialog dengan fikiran massa dan bukan dengan perasaan mereka !

Dan Muhammad Rosululloh tidak hanya berbuat itu saja. Mungkin berdialog dengan fikiran manusia itu tidak begitu berat akibatnya, asal saja masih dalam batas lingkungan adat dan cita-cita yang dimiliki bersama.

Tetapi bila anda berbicara dengan mereka rnengenai masa yang jauh berada di depan , masa yang dapat anda lihat tapi mereka tidak rnelihatnya, yang dapat anda rasakan tapi mereka tidak merasakannya, maka sungguh . . . , di kala anda berbicara dengan fikiran mereka dan ber­maksud hendak merubuhkan sendi-sendi dasar kehidupan mereka secara ikhlas dan jujur, tanpa mengharapkan keuntungan­keuntungan tertentu seperti kedudukan dan pengaruh, maka di aini anda menghadapi risiko dan bahaya yang tak dapat teratasi, kecuali oleh ulul ‘azmi, takoh-tokoh berkemauan baja di antara Rosul-rosul dan para pahlawan . . .!

Maka sungguh, Rosululloh adalah pahlawan dari arena ini dan Mahaguru luar biasa! Waktu itu yang dikatakan ibadat adalah pemujaan berhala , sedang agama ialah upacara-upacaranya. Dan Rosululloh tidaklah memakai cara perdebatan bagaimana juga bentuknya.

Sulitnya jalan dan beratnya beban akan dapat teratasi seandainya ia menggunakan kecerdasan yang luar biasa untuk mempersiapkan jiwa manusia sebelum disodori kalimah tauhid secara tiba-tiba. Menjadi haknya dan termasuk dalam kemam­puannya meratakan jalan lebih dulu untuk memisahkan masya­rakat dari Tuhan-tuhan mereka, yang telah mereka warisi pemujaannya selama ratusan tahun.

Maka seyogyanya dimulai dengan gerakan tolak angsur, dan sedapat mungkin menjauhkan diri dari pertentangan secara terbuka yang diketahuinya sejak semula akan membangkitkan kebenc.ian kaumnya, kepadanya dan mempertajam senjata mereka terhadap dirinya ….

Tetapi hal itu tidak dilakukannya …. suatu bukti bahwa ia adalah Rosul ! Didengarnya dalam kalbunya suara langit berkata padanya: “Bangkitlah” maka ia pun bangkit,, dan “Sampaikan lah!” maka disampaikannya . . . , tanpa bermanis mulut atau mengundurkan diri . . . !
Dari saat pertama, dihadapinya mereka dengan inti risalat dan pokok persoalan:­

Hai manusia! Aku ini utusan Aliah kepadamu, dengan maksud agar kamu mengabdikan diri kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan apa pun juga! Sesungguh­nya berhala-berhala itu kosong dan percuma, tidak dapat memberi mudlarat maupun manfa’at!

Dan dari awal mulanya, dihadapinya mereka dengan kata , kata tegas dan gamblang ini , dan dari mulanya pula dihadapinya peperangan sengit yang telah ditaqdirkan akan diterjuninya sampai ia berpisah dengan dunia … !

Apakah orang-orang Mu’min angkatan pertama memerlukan dorongan yang akan mendesak mereka untuk bai’at kepada Rosul ini? Tetapi hati nurani siapakah yang tidak akan tergerak ketika menyaksikan peristiwa luar biasa dan satu-satunya ini … ? Peristiwa seorang laki-laki yang tidak dikenal manusia kecuali sebagai seorang yang sempurna akal dan luhur budi, berdiri seorang diri menghadapi kaumnya dengan da’wah, yang karena pengaruhnya yang dahsyat gunung-gunung belah berserpihan , sementara kalimat-kalimat yang keluar dari mulut dan lubuk hatinya demikian lantang dan mengharukan, seolah-olah di sana berhimpun seluruh kekuatan masa depan , seluruh kenendak dan kemauan bajanya , seakan-akan ia suara taqdir yang me­ma’lumkan keputusannya …

Tetapi mungkin ini hariya merupakan. cahaya kilat yang sekejap saat , dan setelah itu Nabi Muhammad akan pergi meng­urus dirinya sendiri , mengabdikan diri kepada Allah sesuka hati nya , dan meninggalkan berhala-berhala kaumnya di tempat ber­cokolnya , serta membiarkan , agama mereka sebagai sedia kala. .

Seandainya kekhawatiran ini terbayang-bayang dalam otak sebagian orang di kala itu, maka Muhammad saw. segera me­lenyapkannya: Secara gamblang ditegaskannya kepada manusia bahwa ia adalah utusan yang berkewajiban menyampaikan, dan tak dapat diam berpangku tangan atau menyembunyikan cahaya dan kebenara’n yang telah. diperolehnya. Bahkan seluruh ke­kuatan dunia dan alam ini takkan mampu untuk membungkarn dan menghalanginya, karena yang menyuruh dan menggerakkan­nya berkata serta membimbing langkahnya, tiada lain dari Alloh Ta’ala … !

Dan jawaban dari orang-orang Quraisy datang secara tepat, tak ubah bagai lambaian api tertiup angin kencang! Mulailah tekanan dan penderitaan mengalir menimpa dirinya, yang dari bermula sampai akhirnya hanya layak beroleh penghormatan tertinggi, tak ada lagi yang lebih tinggi dari itu … !

Dan laki-laki yang Rosululloh itu mengajarkan pelajaran pertamanya dengan kemampuan seni mendidik yang istimewa dan semangat berqurban yang luar biasa: Dan gambaran peristiwa – itu memenuhi ruang dan waktu, rneliputi halaman, sejarah. Sementara orang-orang yang, bersemangat dan hidup jiwanya di Mekah sama. terpesona dan kagum lalu datang mendekat . : . . Kiranya mereka dapati seorang yang luhur clan tinggi; dan mereka tidak tahu, apakah kepalanya bertambah panjang hingga menjulang dan menyentuh langit, ataukah langit yang turun ke bawah lalu meletakkan mahkota di atas kepalanya . . .!

Mereka lihat usaha mati-matian, keluhuran dan kebesaran . . . . Dan yang paling menyegarkan dari yang.mereka lihat dan saksikan itu ialah suatti hari; ketika bangsawan-bangsawan Quraisy pergi mendapatkan Abu Thalib dan berkata: “Wahai Abu Thalib! Anda adalah seorang yang kami tuakan, kami hormati, dan muliakan. Dan kami telah meminta anda agar melarang keponakan anda itu, tetapi rupanya tidak anda indah- ` kan! Sungguh, demi Allah, kami te.lah tak dapat menahan ke­sabaran kami lagi mendengar cemoohan terhadap nenek moyang kami, ejekan terhadap orang-orang cerdik pandai kami, peng­hinaan terhadap Tuhan-ttzhan gujaan kami! Bila anda masih belum hendak mencegah perbuatannya itu, marilah kita ber­perang tanding, biar salah satu di antara kita tewas atau celaka . . .!”

Abu Thalib pun segera menyuruh memanggil keponakannya itu, lalu katanya: “Wahai keponakanku! Kaummu telah men­datangiku dan memAicarakan soalmu dengan daku. Maka jagalah dirimu dan tengganglah daku, dan janganlah daku diberi beban yang tak sariggup aku memikulnya . .- .!”

Apa jawaban dan bagaimana pendirian Rasulullah saw. waktu itu . . ,? Rupanya orang satu-satunya yang berdiri di sampingnya selama ini hendak berlepas tangan daripadanya. Atau tampaknya ia tak hendak bersedia, atau tak mampu lagi menghadapi Qurasy yang telah unjuk gigi. ,

Tapi Rasulullah tidak ragu-ragu untuk menjawab serta semangat­nya tak pernah kendor! Tidak, bahkan ia tak . mencari-cari kalimat lebih dulu untuk memantapkan keyakinannya! Karena ketika itu keyakinannya bangkit tegak di atas singgasana ke­guruan dan mengajarkan kepada manusia pelajaran yang teramat penting serta membacakan prinsip-prinsipnya yang mendasar. Demikianlah ia berbicara, dan kita tidak tahu apakah yang berkata itu manusia, ataukah seluruh wujud ini yang sedang berdendang:

Wahai paman, andainya mereka menaruh matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan pekerjaan ini , tiadalah aku hendak, me­ninggalkannya, sampai aku berhasil , atau tewas dalam menunaikannya … ,

Salam atasmu wahai Nabi , rahmat Allah serta berkahnya , Wahai pemimpin laki-laki , kata-katamu itu adalah kata-kata laki-laki !

Dengan segera Abu Thalib mengumpulkan kembali segala keberaniannya dan keberanian nenek moyangnya, lalu digeng­gamnya erat-erat tangan kanan keponakannya seraya katanya: “Katakanlah apa yang kamu sukai, dan demi Allah, saya tak­kan menyerahkanmu karena suatu apapun untuk selama-lama­nya …

Tetapi ternyata , walaupun pamannya itu mempunyai ke­mampuan , tiadalah Muhammad, saw. hendak memperoleh per­lindungan dan keamanan daripadanya , bahkan sebaliknya Nabi Muhammadlah yang melimpahkan keamanan , keteguhan, dan perlindungan itu kepada orang-orang sekelilingnya . . .!

Nah , manusia manakah di antara orang-orang yang berbudi, yang menyaksikan tontonan seperti ini, yang takkan tergugah hatinya dan lari mengejar Muhammad saw , demi cinta kasih , keimanan dan semangat pembelaan terhadap dirinya … ?

Ketabahan hatinya membela kebenaran , keteguhannya mengandalkan risalat dan kesabarannya , menghadapi bahaya di jalan Allah , bukan di jalan diri atau karena kepentingannya pribadi, semua itu sudah selayaknya akan mempesonakan akal yang cerdas dan membangkitkan fikiran dinamis, hingga ia akan mengi~uti cahaya yang’ bersinar dan suara yang menghimbau, dan segera mendapatkan “oring jujur dan terpercaya” tadi yang sengaja’datang untuk mensucikan dan memberinya petunjuk.

Orang-orang melihat ia terancam bahaya dari segenap penjuru, sedang hiburan yang biasa diterima dari pamannya Abu Thalib dan isterinya Khadijah telah lenyap pula karena kedua mereka meninggal dunia pada hari-hari yang berdekatan . . . . Barangsiapa yang ingin hendak mengira-ngirakan sampai di mana penganiayaan dan betapa hebatnya permusuhan yang dilancar­kan oleh orang-orang Quraisy terhadap Rosul yang sebatangkara itu, cukuplah bila diketahui bahwa Abu Lahab sendiri yang menjadi seteru dan musuhnya terbesar, pada suatu hari hatinya jadi pilu melihat apa yang dilihatnya , hingga ia mema’lumkan akan melindungi dan membela Rasulullah serta akan menentang semua permusuhan terhadap dirinya … !

Tetapi Rosululloh menolak pembelaan Abu Lahab itu , hingga ia tetap tegak menyeruak , mati-matian membela pendirian dan bebas dari segala ikatan ! Tidak seorang pun yang akan dapat menyingkirkan bahaya daripadanya , karena tak seorang pun Yang mempunyai kemampuan berbuat demikian.

Bahkan Abu Bakar , tokoh utama itu, tiada yang dapat olehnya hanyalah menangis ….

Pada suatu hari Rasulullah pergi ke Ka’bah, dan sementara beliau thawaf, tiba-tiba beberapa orang bangsawan Quraisy yang sedang, mengintai kedatangannya melompat dan menge rumuninya, lalu kata mereka: “Kamukah yang mengatakan begini dan begitu terhadap Tuhan-tuhan kami . . ?” Maka dengan tenang dijawabnya: “Benar, akulah yang mengatakan­nya . . .”. Mereka pun mencengkram pangkal bajunya hendak membunuhnya, sementara Abu Bakar datang melihat kejadian itu meneteskan air mata sambil berkata: “Apakah kalian hendak membunuh seorang laki-laki, hanya karena ia mengatakan bahwa Tuhannya Allah … ?

Satu Tanggapan to “Karakteristik Enam Puluh Sahabat Rasulullah”

  1. Karakteristik Enam Puluh Sahabat Rasulullah « Ayo-membaca Says:

    […] to : anuraga Prakata Cahaya yang Mereka Pedomani-1 Cahaya yang Mereka […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: