Petaka Hasad


petaka hasad

Kata Pengantar Penulis

Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakansemua nikmat-Nya untuk seluruh hamba-Nya dengan beruntun. Kebaikan-Nya atas para hamba tidak bisa dihitung dan dihinggakan. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Al-Mushthafa, yang diutus untuk seluruh manusia sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, serta yang menunjukkan kepada Allah dengan sinar yang menerangi dengan ijin-Nya. Dengan perantaraan beliau, Allah membuka mata yang buta, telinga yang tuli dan hati yang terkunci.

Amma ba’du:

Sesungguhnya, Allah telah mentakdirkan di kam­pung kehidupan dunia ini, agar terkumpul antara yang baik dan yang buruk, yang haq dan yang batil, yang bagus dan yang jelek, serta orang-orang yang beriman dan yang kafir. Kemudian semua yang baik, yang haq dan ahlinya akan berkumpul di dalam jannah. Sedangkan yang buruk, yang batil serta para ahlinya semuanya akan berkumpul di neraka. Di sanalah Allah memisahkan antara yang baik dan yang buruk.

Allah juga telah mentakdirkan bahwa jalan menuju jannah itu dipenuhi dengan berbagai halangan dan rintangan. Jannah juga dipenuhi dengan hal-hal yang dibenci, sedangkan neraka dihiasi dengan berbagai syah­wat. Sesungguhnya, penghalang terbesar antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah seputar jiwa, sebagai­mana disebutkan Imam Ibnul Qayyim Beliau menyerupakan hal itu seperti gunung yang memisahkan antara seorang hamba dengan Rabbnya.

Dari sini, menjadi keharusan bagi setiap hamba yang berakal sujiaya mengoreksi diri serta mencari penyakit dan faktor pemutus yang merighadang perjalanannya menuju Allah Ta’ala. Dengan begitu ia bisa mempersiap­kan bekal untuk memeranginya, serta bisa mengerahkan kesungguhan semampunya untuk menyingkirkannya sebelum mengakar kuat. Sebab, barangkali penyakit ini akan menyeretnya ke jalan kebinasaan dan ke tempat kesengsaraannya sedangkan ia tidak merasa.

Hasad merupakan bagian dari penyakit berbahaya tersebut, yang jika telah mengakar dalam had, maka akan benar-benar merusaknya dan tidak bisa diharapkan kebaikannya kecuali dengan taufiq Allah. Tulisan singkat ini mengulas seputar keburukan hasad, serta penjelasan tentang pengaruh buruknya terhadap Kati seorang mukmin, agamanya, jiwanya, ahlinya, dan hubungannya dengan kemasyarakatan. Demikian pula hasad juga memiliki pengaruh terhadap orang-orang terbaik yang menisbahkan diri kepada ilmu. Penulis mengisyaratkan hal ini dalam sebuah terra hasad yang terjadi di antara para ulama. Penulis sebutkan juga perkataan para ahli ilmu tentang solusi untuk menyingkirkan hasad serta sikap berbangga diri.

Penulis sengaja menghadirkan banyak keterangan pendapat dari para ulama, ahli hikmah dan sastrawan, dengan maksud agar risalah ini menjadi karya tulisan yang ilmiah, yang komprehensif dan bermanfaat, serta memberikan kontribusi bagi khazanah kepustakaan Islamiyah. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan amal ini ikhlas hanya untuk mencari ridha-Nya. Semoga Dia menerimanya dengan penerimaan yang baik dan semoga bermanfaat bagi kaum muslimin. Sesungguh­nya Dia kuasa dan Maha Mampu untuk yang demikian. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada nabi kita Muhammad beserta seluruh keluarga beliau.

 Hani Syaikh Jurnu’ah Sahl Sudan — Ummu Darman

Download
Skydrive
       Box

Satu Tanggapan to “Petaka Hasad”

  1. Olga T. Preston Says:

    Kedua: Bertakwa kepada Allah, menjaga perintah dan larangan-Nya, karena barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan menjaganya dan tidak membiarkannya kepada selain-Nya. Ketiga: Sabar atas gangguan saingannya tersebut, tidak membalasnya dan mengeluhkannya, tidak ada yang ditolong dari orang yang hasad dan saingannya seperti ditolongnya orang yang sabar.Keempat: Tawakal kepada Allah. Barang siapa yang tawakal kepada Allah maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya. Tawakal merupakan salah satu faktor terkuat yang dapat dipergunakan hamba untuk menolak gangguan makhluk, kezaliman dan permusuhannya.Kelima: Mengosongkan hati dari mengurusi orang itu dan mengosongkan pikiran darinya. Hendaklah ia niat menghapus dari benaknya setiap kali hasad tersebut muncul. Janganlah ia menoleh dan jangan takut kepadanya. Jangan pula mengisi hatinya dengan memikirkannya.Keenam: Menghadap kepada Allah dan ikhas kepada-Nya. Menjadikan kecintaannya kepada Allah, ridha kepada-Nya dan kembali kepada-Nya pada tempat di seluruh benak dirinya.Ketujuh: Memurnikan taubat kepada Allah dari segala dosa.Kedelapan: Bersedekah dan berbuat baik semampu kita.Kesembilan: Dan ini termasuk cara tersulit dan terberat bagi diri. Tidaklah seseorang diberi taufik untuk melakukan hal ini kecuali orang yang mendapat keuntungan yang besar, yakni memadamkan api hasad dengan membalasnya dengan kebaikan. Setiap kali kejahatan dan hasad tersebut bertambah, dia akan lebih banyak lagi berbuat baik kepadanya, menasehatinya dan merasa iba kepadanya (karena buruknya hasad tersebut).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: